Mengenal Mooncake, Si Kue Umur Panjang

Menjelang akhir pekan kedua bulan September, masyarakat Tionghoa biasanya akan mengadakan perayaan besar. Perayaan yang diadakan setahun sekali khususnya pertengahan musim gugur ini dinamakan dengan Mooncake Festival atau Perayaan Kue Bulan. Bagi warga Tionghoa festival ini adalah perayaan terbesar kedua setelah imlek, ini karena seluruh keluarga akan berkumpul dan merayakannya bersama sembari menikmati kue bulan.

Kue bulan Memiliki Banyak Jenis

Ukuran kue bulan cukup berbeda dibandingkan kue – kue lainnya, kue ini berukuran lebih besar sesuai dengan namanya. Meskipun namanya kue bulan, kue ini memiliki berbagai bentuk dan varian. Cara pembuatannya sendiri dibedakan berdasarkan gaya  Guangdong, Chaozou, Beijing, Hongkong, dan Taiwan.

Mooncake yang berasal dari Guangdong adalah kue bulan yang paling terkenal dan memiliki variasi Cantonese. Di Indonesia sendiri, kue bulan Guandong dan Chaozhou lah yang paling banyak ditemui. Selain variannya, kue bulan juga memiliki banyak rasa seperti pedas, asin, dan manis. Pada umumnya, jenis Ningbo yang berasa dari provinsi Zhejian akan memiliki rasa pedas, sedangkan untuk jenis Yunnan memiliki rasa manis.

Setiap tempat memang memiliki cita rasa dan keunikannya masing-masing, namun pada dasarnya bahan dasar pembuatan kulit kue bulan sama yaitu tepung gandum, gula, dan es. Rasa tradisional dari kue bulan sendiri kini sudah banyak dimodifikasi untuk menyesuaikan dengan konsumen setempat, dahulu rasa kue bulan hanyalah kuning telur, kacang merah, buah-buahan, kacang hijau, dan biji teratai.

Aksara Han Mengartikan Panjang Umur

Ketika anda melihat mooncake, sebuah ukiran khas bisa ditemukan pada permukaan kue. Berbeda dari kue biasanya yang memiliki topping, kue bulan identik dengan ukiran aksara han yang memiliki makna khusus tentang perayaan besar ini. Aksara han yang terukir ini memiliki arti harmoni atau panjang umur, arti ini juga masih berhubungan dengan bentuk kue bulan yang bulat lambang persatuan.

Namun, kue bulan yang biasa kita temui di pasaran terkadang tidak memiliki aksara han. Hal Ini karena sudah banyak yang memodifikasi tampilan permukaan dari kue bulan. Pada kue aslinya, selain memiliki aksara han pada permukaan kue, kemasan kue bulan pun terdapat gambar yang memiliki makna tak kalah penting. Gambar seorang wanita membawa kue  pada kemasan, kue yang dibawa oleh wanita ini dilambangkan sebagai persembahan pada dewi bulan.

Festival Kue Bulan Sebagai Ungkapan Rasa Syukur

Bagi warga Tionghoa, festival kue bulan sangat lah penting. Ketika memasuki akhir pekan kedua bulan September, seluruh warga Tionghoa beserta keturunannya akan turut merayakannya. Perayaan ini bisa dibilang perayaan besar sehingga seluruh keluarga akan berkumpul menjadi satu keluarga besar dalam satu rumah untuk merayakan festival.

Perayaan kue bulan ini sebenarnya sebagai rasa syukur kepada para Dewa akan rezeki yang diberikan kepada umat manusia di Bumi pada musim gugur. Seperti yang kita tahu, musim gugur pada negara yang memiliki 4 musim sangat identik dengan panennya berbagai macam makanan. Inilah yang menjadi dasar perayaan mooncake.

Festival ini dilaksanakan tepatnya pada pertengahan bulan purnama, penandaan waktu bulan purnama ini juga dikaitkan pada Dewi Bulan, Chang Erl. Seluruh perayaan ini memang dikaitkan dengan bulan, mulai dari kue bulan, duduk melingkar seperti bulan, serta ditemani dengan cahaya bulan purnama. Cara duduk melingkar tersebut dianggap sebagai bentuk persatuan dan kekeluargaan.

Bagi masyarakat Tionghoa, perayaan atau festival kue bulan sangatlah penting. Ini sebagai ungkapan syukur kepada Dewi bulan yang secara turun temurun masih dilakukan. Seluruh perayaan ini memang berkaitan dengan dewi bulan, mulai dari kue bulan sebagai santapannya, hingga waktu yang dilaksanakan pun pada pertengahan bulan purnama. Memang, saat ini kue bulan sudah banyak di modifikasi, namun lambang dan legenda pada kue bulan tersebut tidak akan tergantikan.